Masalah terkadang membuat kita terpuruk, dan terkadang justru membuat kita semakin menuju puncak. Apa yang membedakan?

Yang membedakan adalah pola fikir. Orang yang memiliki optimisme tinggi akan mudah mencerna masalah menjadi sebuah anak tangga yang membawanya ke tempat yang lebih tinggi. Ke derajat yang lebih meningkat.

Sedangkan orang yang pesimis akan memandang masalah adalah sebuah batu besar yang hanya akan menghalanginya menuju apa yang dia inginkan.

Pagi ini, saya berdialog dengan seorang Kiai, yang ketika awal bertemu, saya langsung jatuh hati. Kya kya kya.

Kiai tersebut memiliki semangat juang yang luar bisa, mampu mencerna setiap masalah yang beliau hadapi dengan baik. Tidak muluk-muluk, yang beliau yakini: bahwa setiap makhluk pasti sudah dijamin oleh sang Khalik. Bagaimanapun masalahnya, solusi selalu ada.

Dalam al-Qur'an juga sudah disinggung, bahwa إن مع العسر يسرا "sungguh bersama satu masalah terdapat berbagai macam solusi".

Kalau dalam nahwu, kata العسر adalah bentuk kata yang terbatas, yang tertentu karena menggunakan ال ta'rif, sedang setelahnya يسرا adalah kata yang tidak terbatas, global.

Jadi dalam setiap satu masalah akan ada banyak solusi.

Pertanyaan kemudian adalah, apakah dengan meyakini bahwa setiap satu masalah bersanding dengan banyak solusi itu cukup untuk keluar dari masalah tersebut?

Tentu tidak, manusia yang diciptakan memiliki perangkat khusus berupa akal harus mengoptimalkan kinerjanya. Kinerja akal harus dioptimalkan dengan cara berfikir. Berfikir akan terjadi kalau kita tenang, ketenangan akan ada kalau kita berdzikir, begitu seterusnya.

Jadi benar konsep kesalehan dalam Islam, orang saleh akan senantiasa berdzikir, orang yang senantiasa berdzikir akan mendapat ketenangan, dan orang yang dapat ketenangan dia akan selalu bisa berfikir jernih dan matang.

Begini analoginya,

Ada kelelawar yang masuk dalam rumah, ini adalah masalah, kemudian kelelawar ini akan berputar-putar untuk mencari pintu keluar, berputar putar mencari jalan keluar ini adalah bentuk ikhtiar dan pengoptimalan usaha dalam berfikir.

Kemudian, manusia yang melihat fenomena tersebut tergugah, dia akan membuka semua lubang yang ada di dalam rumah, pintu, jendela atau apapun, ini berarti seperti Allah membukakan banyak solusi kepada kelelawar tadi melalui manusia.

Lalu, dengan pilihan pintu keluar yang banyak tadi, kelelawar akan keluar dengan sendirinya, sama seperti manusia yang akan keluar dari masalahnya melalui pintu solusi yang paling mudah baginya.

Muhammad Bayanillah
(Mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo)
Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

1 komentar:

 
Top