Beliau adalah salah satu Amirul Mukminin (Pemimpin Kaum Mukminin) dan salah satu figur atau contoh dari seorang pemimpin yang teladan.

Suatu kisah, pada suatu hari sayyidina Umar melakukan Sidak (operasi mendadak)
Dengan maksud ingin mengetahui seberapa sejahteranya masyarakat pada saat khalifah Umar berkuasa.
Suatu malam beliau berkeliling kampung-kampung tanpa ditemani ajudannya dan beliaupun berdandan seperti rakyat biasa yang tidak memiliki apapun, dari segi pakaian sepintas orang tidak akan mengenali beliau. Setelah lama berkeliling dan melihat ada suatu gubuk yang ditempati oleh seorang ibu dan kedua anaknya. Dan pada saat itu kedua anaknya merengek menangis sambil berkata kepada ibunya: "Ibu…. Aku.… lapar…." Dan ibunya menjawab," sabar ya nak ibu kan sedang memasak gandum cuman saja ini belum matang," dan anak si ibu tetap saja merengek dan menangis. Mungkin karena kecapaian akhirnya keduanya tertidur pulas dengan kondisi perut dalam keadaan lapar.

Dari kejauhan Sayyidina Umar RA pun melihat serta memperhatikan tingkah laku si ibu itu. Satu jam pun berlalu dan sayyidina Umar merasa heran dan berkata dalam hatinya," kenapa makanan yang dimasak si ibu tak kunjung matang, memang apa yang dimasaknya itu," Karena rasa penasarannya akhirnya Sayyidina Umar pun mendekati dan menghampiri rumahnya si ibu tadi dan bertanya kepada si ibu kemudian berkata: "Wahai ibu tadi aku sempat memperhatikan apa yang kau katakan kepada kedua anakmu, dan engkau menjawab makanannya belum masak, memang sebenanrnya apa yang engkau masak dengan waktu yang cukup lama sampai akhirnya kedua anakmu tertidur kecapaian dalam keadaan lapar."

Si ibu itu pun menjawab dengan nada yang sedih karena telah membohongi kedua anaknya. "Aku tidak masak apapun karena aku tidak memiliki sesuatu untuk dimasak" lalu Umar pun bertanya kembali: "memang tadi engkau memasak apa ? dan ibu itupun menjawab sambil memperlihatkan kepada Umar RA apa yang ada dalam panci itu," inilah yang saya masak, dan engkaupun melihatnya sejak dari tadi" saat diperlihatkan oleh si ibu tadi apa yang ada dalam panci tersebut. Umarpun merasa iba karena rasa ingin membahagiakan anaknya si ibu itu. Yang rela berpura-pura memasak makanan padahal yang dia masak bukanlah gandum yang bisa dimakan. Tapi si ibu itu terpaksa memaksa air yang diisi dengan sebuah batu.

Melihat kejadian itu umar RA pun bertanya lagi kepada si ibu: "Memang apa yang telah dilakukan dengan pemimpin negeri ini," dengan jujur dan merasa tidak mengetahui siapa sebenarnya yang bertanya itu, maka si ibu pun menjawab: "Pemimpin di negeri ini adalah pemimpin yang tidak punya rasa tanggung jawabnya terhadap warga miskin dan tidak ada kepeduliannya terhadap orang kecil."

Mendengar jawaban itu dari si ibu, Umar RA pun merasa malu sebagai pemimpin dan berkata kepada si ibu itu," ibu,!! kamu tunggu sebentar disini aku akan kembali lagi kesini," Berangkatlah Sayyidna Umar RA ke gudang tempat penyimpanan makanan. Sesampai disana umar langsung meminta kepada penjaga gudang tersebut untuk dibawakan sekarung gandum kepada beliau.

Masuklah si penjaga tadi kedalam gudang penyimpanan dan mengambil satu karung gandum sesuai permintaan dari Umar. Setelah sampai dihadapan Umar kemudian si penjaga tadi bertanya lagi," Wahai Amirul Mukminin kepada siapakah aku harus mengantarkan gandum ini," dan Umar pun menjawab," wahai penjaga biar aku saja yang mengantarkan gandum ini."

Mendengar jawaban umar si penjaga tadi tetap merasa tidak enak dan menjawab kembali," wahai Amirul Mukminin ini adalah tugas dan tanggung jawabku, jadi biar aku saja yang mengantarkan gandum ini," mendengar jawaban tersebut Umar tersenyum dan berkata: "Wahai penjaga ini adalah tanggung jawabku sebagai pemimpin. Maukah kamu menanggung tanggung jawab saya di Yaumil Akhir ketika semua manusia kelak dikumpulkan dan pemimpin juga diminta pertanggungjawabannya karena telah menyia-nyiakan amanat dan menelantarkan rakyatnya."

Mendengar jawaban begitu akhirnya si penjaga tadi menurunkan karung gandum dari atas pundaknya dan menyerahkannya kepada Umar RA. Kemudian Umar berangkat lagi menuju rumah si ibu tadi sambil membawa gandum untuk diberikan kepada ibu tadi. Sesampai disana Umar pun berkata: " Wahai ibu cobalah masak gandum ini dan berikan kepada anak-anakmu yang sedang kelaparan."

Melihat kedatangan Umar RA dan dengan membawa satu karung gandum yang dibawa sendiri, si ibu tadi merasa terharu juga senang dan mengucapkan rasa terimakasihnya. Kemudian bertanya kepada Sayyidina Umar: "Wahai tuan siapakah gerangan anda yang mau memberikan gandum kepada kami," lalu Umar pun tersenyum dan berkata: "Wahai ibu aku adalah Amirul Mukminin dan aku adalah pemimpin negeri ini.
Mendengar jawaban umar begitu, si ibu tadi sontak merasa kaget dan takut jangan-jangan beliau yang akan menghukum atas kelancangan dan kekurang ajarnya, dan si ibu tadi pun berkata: "Wahai Amirul Mukminin ampunilah hamba yang telah lancang dan berani mencaci dan menjelekkan tuan karena keidak tahuan hamba," Kemudian Sayyidina Umar menjawab: "Sudahlah ibu ini adalah tanggung jawab saya sebagai seorang pemimpin di negeri ini.

Hakikatnya, Pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya bukannya menggunakan kesewanang-wenangan untuk menindas, membasmi, memeras, dan mendzalimi. Pemimpin yang baik ialah pemimpin yang dapat dilihat dari seberapa baiknya dia melayani masyarakat.

Semoga cerita dan kisah dari keteladanan seorang pemimpin Sayyidina Umar Bik Khatab RA menjadi contoh untuk para pemimpin umumnya. Terutama untuk generasi-generasi pada masa zaman sekarang ini. Jika di suatu negeri terdapat sosok pemimpin seperti ini maka sejahteralah negeri itu.
Wallahu Tabaaroka Wa Ta'aala A'laa Wa A'lam

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top