Demikian pula ada hadis yang menceritakan mereka (orang Yahudi) bahwa jika mereka mengucapkan salam berkata: (assaammu ‘alaikum) dan kata (assaamm) berarti maut. Karenanya kita disuruh untuk menjawab mereka denga: (wa ‘alaikum) jadi doa yang mustajab adalah doa kita kepada mereka dan bukan doa mereka kepada kita. Tujuannya adalah bahwa Allah SWT melarang orang mukmin meniru perkataan dan perbuatan orang kafir.

Imam Ibnu Taymiyah berkata: orang muslim berkata: (tunggu kami wahai Rasulullah, dan perhatikan pendengaranmu dari kami). Mereka bermaksud dari kata (muro’ah/ menjaga). Dan perkataan ini menjadi hinaan yang keji dalam bahasa Yahudi, dan mereka memanfaatkannya. Mereka (Yahudi) berkata: dulu kita menghina Muhammad sembunyi-sembunyi, maka berterus teranglah kalian sekarang padanya untuk mennghinanya. Lalu mereka mendatanginya dan mengatakan: (ro’ina ya Muhammad/ perhatikan kami wahai Muhammad) dan mereka menertawakannya, lalu sahabat Sa’ad bin Mu’adz mendengarnya dan mengetahuinya, karena ia paham bahasa mereka, lalu ia berkata kepada Yahudi: “laknat Allah untuk kalian, demi Dzat yang jiwaku berada pada genggamanNya. Wahai orang Yahudi, kalaulah saya mendengar dari seorang diantara kalian mengatakannya kepada Rasulullah SAW maka akan saya penggal lehernya”. Lalu orang Yahudi berkata: bukankah kalian mengatakannya juga? Lalu Allah menurunkan ayat: “wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan: (ro’ina)”, Agar orang Yahudi tidak menjadikannya sebagai jalan untuk menghina Rasul SAW.

Kemudian Allah SWT mengajarkan orang-orang mukmin akan perkataan yang mereka ucapkan sebagai ganti dari kata ini. Allah berfirman: “tetapi katakanlah (undzurna)”.
Yakni: wahai orang mukmin, jangan mengatakan kata-kata itu (ro’ina) agar orang yahudi tidak menjadikannya sebagai jalan untuk menghina nabi kalian, tapi katakanlah (undzurna) sebagai gantinya. Yakni: tunggulah kami dan pelan-pelanlah agar kami memahami perkataanmu. Dari kata (nadzoro) yang bermakna (intadzoro). Misalnya kamu mengatakan: “nadzortu arrojula andzorohu” jika kamu menunggu dan menantinya. Dan makna seperti ini terdapat dalam firman Allah Qs: al hadid-13: “tunggulah kami! Kami ingin mengambil cahaya kalian”.
Yakni: tunggulah kami agar kami bisa mengambil cahaya kalian.

Ayat yang mulia ini adalah peringatan dan bimbingan adab yang baik, yaitu agar seseorang menjauhi sapaan kepada orang lain dengan kata-kata yang berasumsi keras atau merendahkan pada keadaan yang menghendaki ungkapan kecintaan atau pengagungan.

Kemudian Allah SWT menjelaskan tempat orang Yahudi sebagai balasan atas kesewenangan mereka terhadap Rasulullah SAW dengan firmanNya: “dan bagi orang-orang kafir ada adzab yang sangat pedih”.
Yakni: bagi orang Yahudi yang menjadikan kalimat (ro’ina) sebagai cara untuk menghina Rasul SAW –bagi mereka- ada siksa yang pedih, sebagai balasan atas kekafiran, kesewenangan, dan kebodohan mereka.

Kemudian Allah SWT menjelaskan apa yang disembunyikan oleh orang Yahudi kepada umat Islam berupa rasa benci dan dengki. Allah berfirman dalam QS Al baqoroh- 105:
“Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya kepadamu suatu kebaikan dari Tuhanmu. Tetapi secara khusus Allah memberikan rahmatNya kepada orang yang Dia kehendaki. Dan Allah pemilik karunia yang besar”.

Telah disebutkan dalam banyak hadis shohih yang menjelaskan bahwa orang Yahudi mengucap salam kepada Rasulullah SAW dengan ucapan yang menyimpang, yang tidak diketahui oleh banyak orang. Mereka bermaksud mendoakan kematian kepada Rasul. Lalu Rasul menjawabnya dengan sesuatu yang menghinakan dan merendahkan mereka. diantara  hadis ini adalah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Anas bin Malik, beliau berkata: “ada orang Yahudi melewati Rasulullah SAW dan berkata: (assaamu ‘alaik) lalu Rasul menjawab: (wa’alaika). Rasulullahpun berkata kepada para sahabat: “apa kamu tahu, apa yang dia katakan?” para sahabat menjawab: “tidak...” Nabi berkata: “dia mengatakan: assaamu ‘alaik”. Para sahabat berkata: “wahai Rasulullah, apakah kami bunuh dia?” Nabi berkata: “jangan, jika ada orang ahli kitab mengucap salam kepada kalian, maka katakan: (wa’alaikum)”.

Asy Syaykhoni (Buhkori-Muslim) meriwayatkan dari Aisyah RA beliau berkata: “ada sekelompok Yahudi datang kepada Rasulullah SAW dan mengatakan: (assaamu ‘alaik). Aisyah berkata: saya memahaminya, lalu saya berkata: (‘alaikum saam wal la’nat). Aisyah berkata: lalu Rasulullah SAW berkata: (yang tenang saja wahai Aisyah) karena sungguh Allah menyukai kelembutan pada setiap hal. Lalu saya katakan: wahai Rasulullah, bukankah engkau mendengar apa yang mereka katakan? Rasul berkata: saya sudah jawab (wa’alaikum)”.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah beliau berkata: “ada orang Yahudi yang mengucap salam kepada Rasulullah SAW dan mengatakan: (assaamu ‘alaik ya Abal Qosim) lalu Nabi menjawab: (wa’alaikum). Lalu Aisyah berkata dan marah: “bukankah engkau mendengar apa yang mereka katakan?” Nabi berkata: “ya,,,saya mendengarnya dan saya sudah menjawabnya. Jadi kita dikabulkan dan mereka tidak dikabulkan”.


Jadi ayat suci dan hadis nabi menyatakan bahwa orang Yahudi menggunakan perkataan yang dipelintir dan keji dan pernyataan yang menyimpang –sebagai usaha untuk menghadang dakwah Islam-. Akan tetapi Allah SWT meruntuhkan rencana mereka dan melarang umat Islam menggunakan kata-kata yang dijadikan sebagai jalan untuk melampiaskan tujuan oleh orang Yahudi. Rasul SAW pun membalas dengan sesuatu yang membuat marah dan merendahkan mereka. Oleh sebab itu sirnalah rencana jahat orang Yahudi terhempas angin, dan Allah menguatkan RasulNya dan orang mukmin dengan kekuatan dan pertolongan-Nya.
________________________________________________
Diterjemahkan dari majalah Al-Azhar

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top