Orang yahudi berwatak suka menipu dan membujuk dan menjadikan tipu daya dan bujukannya sebagai senjata mereka dalam menyakiti Rasulullah SAW dan mereka menyapa beliau dengan perkataan yang mengandung sindiran dan memutar kata-kata agar bisa sampai pada tujuan jahat mereka yaitu menyakiti, menghina dan merendahkan Nabi SAW, dan menampakkan beliau di depan para sahabatnya sebagai orang yang tidak tahu gaya bahasa mereka.

Para sahabat RA. mengatakan suatu kata yang bermakna benar yang mengandung pemulyaan dan pengagungan kepada Nabi SAW. Akan tetapi orang Yahudi mengutip perkataan itu dan menyelewengkannya agar menjadi makna yang jelek bagi mereka ketika diucapkan. Al Qur’an sudah menceritakan hal tersebut tentang mereka, dan melarang orang mukmin mengatakan lafadz tersebut kepada Rasul SAW, agar orang Yahudi tidak menjadikannya sebagai jalan untuk menyakiti Nabi SAW. Diantaranya adalah firman Allah SWT dalam surat al Baqarah: 104-105 :

“wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan: (ro’ina), tetapi katakanlah (undzurna) dan dengarkanlah. Dan orang-orang kafir akan mendapatkan adzab yang pedih. Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya kepadamu suatu kebaikan dari Tuhanmu. Tetapi secara khusus Allah memberikan rahmatNya kepada orang yang Dia kehendaki. Dan Allah pemilik karunia yang besar”.

Kata : (ro’ina) dari kata (muroo’aah) yang berarti benar-benar menjaga dalam arti menjaga orang lain, berlaku halus, mengurusi masalahnya, dan mengusahakan maslahatnya. Dan orang-orang mukmin mengatakan kepada Rasul SAW ketika beliau menyampaikan hadis kepada mereka: “ro’ina ya Rasulallah” yang berarti awasi kami dan tunggu kami agar kami memahami perkataanmu dan menghafalnya. Lalu orang Yahudi mengutip perkataan itu karena punya kesamaan dengan kata keji dan langsung menyelewengkannya dan berkata: “(ro’ina) wahai Abul Qosim (Rasulullah)”. Mereka menampakkan bahwa mereka ingin diperhatikan dan dinanti padahal mereka sebenarnya bermaksud makna isim fail dari kata “ru’unah” yang berarti dungu dan bodoh. Maka Allah melarang orang muslim menggunakan kata ini (ro’ina) agar orang Yahudi tidak menjadikannya sebagai alat untuk menyakiti Nabi SAW dan merendahkannya.

Qotadah berkata: (orang Yahudi berkata kepada Nabi SAW (ro’ina sam’aka/ tunggu kami untuk mendengarmu), dan mereka mengejek dengan kata itu, dan kata tersebut bermakna keji bagi orang Yahudi).

Imam Ibnu Katsir berkata: “Allah SWT melarang hambanya yang beriman untuk meniru orang kafir dalam perbuatan dan perkataan mereka, hal itu karena orang Yahudi bermaksud untuk menyindir dengan kata tersebut, karena mengandung penghinaan. Jika mereka ingin mengatakan: “dengarkan kami” mereka mengatakan: (ro’ina) dan mereka menyindir dengan (ru’unah/ dungu).

Seperti firman Allah: “diantara orang Yahudi ada yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Dan mereka berkata: “kami mendengar tetapi kami tidak mau menurutinya” (dan mereka mengatakan pula) “dengarlah” sedang (engkau Muhammad sebenarnya) tidak mendengar apapun. Dan mereka mengatakan “ro’ina” dengan memutarbalikkan lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “kami mendengar dan patuh dan dengarlah dan perhatikanlah kami” tentu itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, tetapi Allah melaknat mereka karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali sedikit sekali”.
____________________________________
Diterjemahkan dari Majalah Al-Azhar

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top