Ulama Abad 21 Prof.Dr.KH Aqil Siradj, MA. Menyinggung dalam sebuah seminar akan definisi Tasawuf yang penulis kutip bahwa Tasawuf bukan ilmu Akhlah, tasawuf juga bukan ilmu hikmah, bukan pula memperbanyak ibadah. Doktrin semacam ini kita anggap benar hanya saja perlu kita kaji ulang agar tak dimakan mentah-mentah, karena Asholah atau kemurnian tasawuf itu sendiri memiliki relasi yang sangat  erat dengan akhlak dan lain-lain, dimana Ustadz.Dr. Faraj Abdul Halim dosen Aqidah falsafah Universitas Al-Azhar menuliskan dalam bukunya yang berjudul “Al Fikr Asshufi fi Mizani Assyariah Al-islamiyah” bahwa Tasawuf adalah sebuah orietansi perilaku berdasarkan pengetahuan yang bermoral, bertujuan menghiasi diri dengan kebaikan dan mengosongkan diri dari kejelekan atau yang biasa kita kenal dengan konsep Tahalli dan Takhalli.

Adapun landasan ilmu Tasawuf islam yang benar itu sendiri sama halnya dengan landasan dasar islam yaitu Al-Qur’an dan Assunah, seperti yang di katakan Imam Al-Junaidi “Ajaran kita (sufi) itu mengambil dari Al-kitab dan As-sunnah”, kemudian As-syekh Abdul Wahhab Assa’rani memperkuatnya dengan berkata “Tasawuf di bangun berbahan Al-Qur’an dan sunnah  dan mengimplementasikan Akhlak Para Nabi dan Asfhia yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah ataupun hukum Islam (syari’ah)”. Bahkan para sufi juga sepakat bahwa tidak dikatakan sufi atau ahli Tasawuf bagi mereka yang belum mendalami ilmu syari’ah beserta pemahaman dan aplikatifnya. Dari sini pula kita bisa memfilterisasi perbedaan antara sufi sebenarnya dan sufi “abal-abal” melalui pengetahuan keagamaan terkhusus syari’ah islamiah.

Bahkan dengan tegas imam Abu Hasan Assyadzili berkata “ketiaka bertentangan antara ajaran sufi dengan Al-Qur’an makan berpegang teguhlah pada Al-Qur’an dan tinggalkan sufisme”. Maka Tasawuf yang benar adalah “yaqumu ala ittiba’ la ala ibtida’ (tasawuf yang selaras dengan ajaran nabi tidak dari hal yang baru)”. Imam al-junaidi berkata “ ilmu kita (Tasawuf) berbanding lurus dengan Al-Qur’an, assunnah dan hal yang tak terdapat dalam Al-Qur’an dan tidak tertuliskan dalam hadits maka jangan sekali-kali berpegang padanya”.

Lalu siapa yang di katakan sufi?
Orang yang bersih hatinya dari menyibukan materialistis yang berintikan mekoneksikan manusia dengan sang pencipta yang berbanding lurus antara perilaku dan ucapan dengan syari’at, dan kesucian dzohir dan bathin, tulis Dr.Faraj dalam bukunya. Bahkan imam Al-Junaidi mengisyaratkan sufi dengan tanah yang tak pernah tumbuh darinya hama kecuali hanya tumbuh darinya hal yang baik. Maka Tasawuf yang benar adalah yang beriman pada yang Haq, beraqidah benar berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits, mengikuti ajaran para Nabi dan rasul agar mantap dalam mengkoneksikan secara murni pada sang Pencipta.

Pradigma penulis menyimpulkan setiap orang itu bisa menjadi sufi tanpa terkecuali, petani yang baik petani yang sufi, dokter yang baik dokter sufi, guru yang baik guru yang sufi dan lain sebagainya, dan dalam analisa publik, lembaga yang turut mencetak sufi adalah pesantren karena banyak di luar sana, di kampu-kampus, sekolah-sekolah, yang tau apa itu tasawuf tapi hanya sebuah teori yang tak aplikatif, coba saja kita amati sedemikian rupa pesantren menggembleng santrinya dengan aturan tahalli dan takhalli dengan cara mewajibkan jama’ah shalat, melarang penggunaan ponsel yang kadang mengurangi koneksi pada sang pencipta karena terlalu kuatnya koneksi pada sang kekasih, pengajaran berdzikir juga di ajarkan dalam pesantren yang di mana dzikir menurut Abu Said Al-kharazi merupakan ciri khas dari sufi sebenarnya, dan setelah itu santri juga di topang dengan ilmu keagamaan dan syari’ah islamiah yang menjadi syarat mutlak seorang sufi. Ajak penulis untuk pembaca agar  menjadi sufi yang sesungguhnya menurut profesi masing-masing tanpa harus menimbang rendah tingginya profesi karena itu hanya bagian dari materi, yang harus kita tekan adalah pendekatan pada sang ilahi Allah SWT. Al-Qur’an juga mengatakan "wal akhirotu khiru wa abqa".

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top