Allah menciptakan makhluk dan memberikan kadar kemuliaannya. Makhluk berarti segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah, bukan sebatas pada manusia saja, termasuk juga jin, malaikat, bebatuan, tanah dan semua ciptaan Allah. Jadi, diantara golongan maupun perseorangan makhluk Allah, ada diantara mereka yang paling mulia, ada pula yang paling hina, baik di dunia maupun di akhirat. Namun kesemuanya itu adalah ciptaan Allah. Allah yang menciptakan, dan Allah sendiri yang memberi kadar timbangan kemuliaan. Allah pula mengharuskan para makhluknya untuk menghormati dan memuliakan diantara mereka yang paling mulia. Siapakah makhluk Allah yang paling mulia?

Diantara makhluk Allah yang paling mulia, secara umum, diantara manusia, jin dan malaikat, di dunia dan diakhirat, karena perilakunya yang baik dan sifatnya yang sempurna, adalah Nabi Muhammad SAW. Rasul utusan Allah SWT., yang paling utama. Orang Islam semuanya bersepakat akan keutamaan Nabi Muhammad SAW., diantara para makhluk lain. Bahkan kaum Muktazilah pun menyetujuinya.

Ada sebagian yang mengatakan –diantaranya: Imam Zamahksyari- bahwa malaikat Jibril as., adalah makhluk yang paling mulia dan lebih mulia dari Nabi Muhammad SAW. Diantara alasannya adalah karena malaikat Jibril adalah yang mengajari dan menjadi guru bagi Nabi Muhammad SAW. Namun pendapat ini tidak diterima oleh mayoritas.


Nabi Muhammad SAW., pernah melarang orang lain agar jangan mengutamakan dan memuliakan dirinya diantara para nabi. Seperti yang telah disebutkan dalam hadis: “Janganlah kalian mengutamakanku diantara para nabi yang lain!”. Ada pula dalam hadis lain: “Janganlaha kalian mengutamakanku atas Yunus!”. Disebutkan pula: “Janganlah kalian memilihku atas Musa!”, dan banyak lagi hadis-hadis yang serupa. Ada sebagian yang berpendapat bahwa kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Nabi Muhammad tersebut adalah menunjukkan bahwa beliau benar-benar tidak lebih mulia dari nabi-nabi yang lain. Ada pula yang berpendapat bahwa Nabi Muhammad berkata seperti itu karena beliau belum mengetahui bahwa dirinyalah yang paling utama dan mulia di muka bumi. Akan tetapi pendapat yang paling disepakati dan diterima oleh mayoritas adalah: bahwa Nabi Muhammad mengatakan begitu adalah bermaksud menjaga adab dan tata krama serta merendah diri.

Keutamaan dan kemuliaan yang ada pada Nabi Muhammad SAW., adalah merupakan pemberian dari Allah SWT., dan bukan merupakan kekhususan yang datang dari Nabi sendiri. Dalam artian, bukan karena tingkah laku Nabi yang mulia, melainkan karena kemuliaan yang diberikan Allah SWT.

Setelah Nabi Muhammad SAW., selanjutnya makhluk Allah yang paling mulia adalah para Nabi yang lain. Maka derajat kemuliaannya dibawah Nabi Muhammad SAW. Siapakah nabi-nabi yang paling mulia setelah Nabi Muhammad itu? Mereka adalah nabi-nabi yang biasa disebut dengan Ulul Azmi, yaitu nabi-nabi yang paling berat ujian kesabarannya. Secara berurutan, mereka adalah: Nabi Ibrahim as., Nabi Musa as., Nabi Isa as., dan Nabi Nuh as. Dan setelah Ulul Azmi, yang paling mulia adalah para Rasul, yang diperintahkan Allah untuk menyampaikan risalah. Kemudian para Nabi, yaitu para manusia pilihan Allah namun tidak diperintahkan untuk menyampaikan risalah.


Selanjutnya, makhluk Allah yang paling mulia setelah Nabi Muhammad, para Rasul dan para Nabi, adalah: para Malaikat Allah. Diantara para malaikat Allah pula ada yang lebih diutamakan, yaitu para pemimpin mereka, yakni: Malaikat Jibril dan Malaikat Mika’il. Dan Malaiakat Jibril lebih diutamakan daripada Malaikat Mika’il menurut mayoritas. Selanjutnya para malaikat lainnya.

Malaikat adalah Jism yang lembut bersifat cahaya serta mampu berubah bentuk menjadi apapun. Ada yang bernaung di langit, ada pula yang bernaung di bumi. Namun malaikat yang bernaung di langit lebih banyak daripada yang di bumi. Malaikat tidak disifati dengan sifat laki-laki maupun perempuan. Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa malaikat itu adalah laki-laki, maka dia dihukumi fasiq. Barangsiapa yang menganggap bahwa malaikat itu adalah perempuan, maka dia dihukumi kafir. Dan barangsiapa yang menghukumi bahwa malaikat itu adalah khuntsa (campuran antara laki-laki dan perempuan), maka dia dihukumi kafir, karena telah merendahkan malaikat.

Menurut Maturidiyah, para Nabi lebih mulia daripada para pemimpin malaikat, seperti Jibril dan Mika’il. Para pemimpin malaikat lebih utama daripada manusia yang cerdas, yaitu para wali Allah selain para Nabi, seperti: Abu Bakar ra., dan Umar ra. Dan mereka para wali lebih mulia daripada para malaikat selain para pemimpinnya.

Pendapat Maturidiah di atas menuai kontroversi, karena mengutamakan yang bukan maksum daripada yang maksum. Maksum adalah makhluk yang dijaga oleh Allah dari perbuatan dosa. Maturidiyah mengutamakan wali Allah yang bukan maksum daripada malaikat yang maksum. Akan tetapi, mereka (maturidiyah) menjawab bahwa: ihwal maksum tidak ada hubungannya dengan pengutamaan dan pemuliaan, karena yang dilihat adalah: pahala yang didapatkan dari ibadah. Para wali Allah lebih banyak mendapat pahala dalam beribadah daripada para malaikat, karena tingkat kesulitan para wali Allah lebih tinggi daripada malaikat.

Kesimpulannya, telah disepakati bahwa: Nabi Muhamad SAW., adalah makhluk Allah paling utama dan mulia diantara para makhluk Allah yang lain secara mutlak. Selanjutnya adalah: para nabi yang bergelar Ulul Azmi, yaitu: Nabi Ibrahim as., Nabi Musa as., Nabi Isa as., dan Nabi Nuh as. Setelah itu, para Rasul utusan Allah dan para Nabi manusia pilihan Allah SWT. Kemudian malaikat Jibril as., malaikat Mika’il as., dan para pemimpin malaikat. Lalu para wali Allah, disusul para malaikat lainnya. Mereka adalah para makhluk Allah yang paling mulia dan dimuliakan.

Sumber: Tuhfatul Muriid ‘alaa Jauharoh al-Tauhiid, karya Imam Ibrahim al-Bajuuri

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top