Ketika itu, Nabi Musa melakukan perjalanan dengan ditemani Yusya’ bin Nun menuju majma’ al-bahrain untuk menemui Nabi Khidir dan menimba ilmu kepadanya. Padahal Nabi Musa tidak tahu secara tepat dan jelas dimana majma’ al-bahrain itu berada.

Sebelum berangkat, Allah hanya memberikan seekor ikan sebagai petunjuk keberadaan tempat yang akan ditujunya itu. Lalu Allah mengisyaratkan kepada Nabi Musa bahwa jika ikan itu hilang di suatu tempat, maka kembalilah ke tempat tersebut, karena disitulah kamu akan bertemu dengan Khidir. Akhirnya dengan modal isyarat, Nabi Musa dan muridnya melakukan perjalanan dengan membawa seekor ikan sebagi petunjuk dan dua potong roti sebagai bekal perjalanan.

Yusya’ bin Nun adalah murid yang juga pembantu atau asisten Nabi Musa. Seperti di pesantren, ada santri yang menjadi pembantu kiyai yang disebut khadim yang artinya pembantu. Yusya’ bin Nun merupakan kader Nabi Musa yang dipersiapkan untuk menggantikannya dalam memimpin Bani Isra’il setelah dia wafat. Majma’ al-bahrain artinya pertemuan dua laut. Sekarang tidak dapat diketahui dimana tepatnya majma’ al-bahrain itu berada. Ada ulama yang berpendapat bahwa majma’ al-bahrain adalah pertemuan laut Persia dan laut Romawi. Di tengah perjalanan, Musa berkata kepada Yusya’ bin Nun : “Aku tidak akan menghentikan perjalanan ini sampai aku menemukan dimana majma’ al-bahrain itu berada walaupun bertahun-tahun lamanya”. Seperti dalam al-Qur’an ayat 60 surat al-Kahfi :

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

Artinya : Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun”.

Begitu bulatnya tekad Nabi Musa untuk mencari Ilmu. Ibaratnya, sekali layar terkembang, pantang surut berpantang. Para santri zaman sekarang hendaknya memiliki tekad yang dimiliki Nabi Musa dalam mencari ilmu. Sekali mondok, pantang boyong sebelum lulus...!!! Kisah perjalanan Nabi Musa pun bisa menjadi alasan pentingnya belajar ilmu melalui guru atau dengan petunjuk guru. Nabi Musa rela menghabiskan waktunya untuk melakukan perjalanan demi menemui sang guru, Nabi Khidir. Kemudian dalam kisah tersebut juga mengisyaratkan tentang pentingnya mencari lembaga pendidikan yang bagus. Seperti Nabi Musa yang mencari majma’ al-bahrain.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top