Pengertian Tafsir
Tafsir menurut bahasa diambil dari kata al-Fasr, yang artinya penjelasan atau keterangan. Sedangkan tafsir menurut istilah, adalah ilmu yang digunakan untuk: memahami kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw., menjelaskan makna yang terkandung, dan untuk mengambil serta memperoleh hukum-hukum dan hikmah-hikmah yang ada didalamnya. Adapun Ta’wil, definisinya secara bahasa berasal dari kata al-awl, yang artinya kembali. Sedangkan defininisinya menurut istilah, adalah penjelasan terhadap al-Qur’an yang merujuk kepada makna dengan kaidah-kaidah yang sesuai serta analisa yang teliti.

Definisi Tafsir bil Ra’yi
Tafsir bil Ra’yi adalah metode penafsiran al-Qur’an dengan metode ijtihad yang berpedoman pada perangkat-perangkat (ilmu) pendukung yang dibutuhkan oleh mufassir (ahli tafsir).

Hukum Tafsir bil Ra’yi
Dari zaman dahulu, para ulama berselisih pendapat tentang hukum boleh atau tidaknya penggunaan metode tafsir bil ra’yi ini. Dalam hal ini ada dua kelompok ulama, yaitu yang tidak membolehkan dan yang membolehkan. Ada ulama yang bersikeras tidak membolehkan tafsir bil ra’yi dengan metode penafsirannya yang tidak menggunakan al-Qur’an dan hadis. Ada pula ulama yang membolehkan tafsir bil Ra’yi dengan metode ijtihadnya.

Alasan Ulama yang Tidak Membolehkan
Berikut ini beberapa pendapat dan alasan atau landasan hukum para ulama yang tidak membolehkan diberlakukannya metode tafsir bil ra’yi atau ijtihad dalam penafsiran al-Qur’an beserta jawabannya menurut para ulama yang membolehkan tafsir bil ra’yi.

Pertama: Mereka berpandangan bahwa tafsir bil ra’yi adalah qoul atau keterangan tentang Allah dengan tanpa ilmu (pengetahuan). Menurutnya hal semacam ini dilarang oleh agama berdasarkan ayat al-Qur’an yang artinya: “Dan janganlah kalian berbicara tentang Allah apa yang kalian tidak ketahui”. Dan keterangan atau penjelasan dengan pandangan akal atau pendapat sendiri adalah termasuk pembicaraan tentang Allah dengan tanpa pengetahuan (ilmu) seperti yang dijelaskan dalam ayat tersebut.

Akan tetapi, dalil tersebut ditolak oleh para ulama yang membolehkan tafsir bil ra’yi. Mereka menolak dengan alasan bahwa pandangan akal juga termasuk ilmu atau pengetahuan. Dengan catatan: ketika pandangan akal tersebut dianggap dapat mengetahui hal yang benar. Pandangan akal dapat pula dilarang ketika memungkinkan adanya ilmu yang qoth’i (pasti) dan nash yang menjelaskan.

Kedua: Mereka mengatakan bahwasanya Allah telah berfirman, yang artinya: “Dan telah kami turunkan kepada kamu (Muhammad) al-Qur’an agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka”. Dan menurut mereka tidak ada penjelasan lain terhadap al-Qur’an kecuali penjelasan dari nabi Muhammad Saw.

Kemudian dibantah oleh para ulama lain, bahwasanya nabi Muhammad Saw belum menjelaskan semuanya apa yang ada dalam al-Qur’an. Maka dari itu, perlu adanya ijtihad para ulama untuk menjelaskan apa yang Nabi belum jelaskan. Dan dalam al-qur’an pun disebutkan, yang artinya: “semoga mereka berpikir”.

Ketiga: Mereka menyebutkan hadis Nabi, yaitu hadis hasan dari Ibnu Abbas, yang artinya: Sesungguhnya Nabi Saw., bersabda: “Berhati-hatilah kalian terhadap pembicaraan tentang aku kecuali apa yang telah kalian ketahui. Barangsiapa yang berbohong tentang aku dengan sengaja, maka akan menempati tempatnya di neraka. Dan barangsiapa yang berbicara tentang al-Qur’an dengan pendapatnya, maka akan menempati tempatnya di neraka”. Dan mereka menyebutkan pula hadis Nabi dari Jundub: “Barangsiapa berbicara tentang al-Qur’an dengan pendapatnya dan mengena, maka dia telah salah”.

Lalu dijawab oleh para ulama lain, bahwasanya yang dimaksud orang yang berbicara dengan pendapatnya disana dan itu dilarang, adalah orang yang berpendapat tanpa kaidah dan pedoman ilmu serta pendapatnya tersebut condong pada hawa nafsu. Dan yang dilarang pula adalah orang yang berbicara tentang al-Qur’an secara tekstual bahasa arab tanpa tahu pada apa yang harus diketahui oleh penafsir al-Qur’an. Mereka menjawab pula bahwa hadis dari Jundub tersebut adalah hadis daif.

Alasan Ulama yang Membolehkan
Berikut ini adalah beberapa alasan dan dasar hukum para ulama yang membolehkan penggunaan metode penafsiran al-Qur’an dengan tafsir bil ra’yi atau metode ijtihad pada tafsir.

Pertama: Para ulama mendasari alasannya membolehkan tafsir bil ra’yi dengan ayat-ayat al-Qur’an tentang anjuran tadabbur al-Qur’an.

Kedua: Mereka mengatakan bahwa jika metode tafsir bil ra’yi tidak dibolehkan, maka semestinya ijtihad tidak diperbolehkan. Namun di sisi lain, ijtihad diperbolehkan. Mereka menganggap hal tersebut adalah sebuah kesalahan besar atau batil.

Ketiga: Mereka menengarai bahwa ketika para sahabat nabi sama-sama membaca al-Qur’an, diantara mereka memiliki tafsir yang berbeda-beda terhadap apa yang telah mereka baca dari al-Qur’an. Dan telah diketahui bahwa mereka (para sahabat) belum mendengar setiap tafsiran al-Qur’an dari nabi Muhammad Saw. Sehingga mereka menafsirkan sendiri apa yang belum mereka dengar dari Nabi dengan akal mereka. Menurut mereka, jika tafsir bil ra’yi tidak diperbolehkan, maka para sahabat nabi tidak akan melakukan hal tersebut.

Keempat: Mereka pun melandasi pendapatnya memperbolehkan tafsir bil ra’yi dengan do’a Nabi untuk sahabat Ibnu Abbas yang berbunyi: “allaahumma faqqihhu fiddiin wa ‘allimhut ta’wiil”. Artinya: Ya Allah fahamkanlah dia (Ibnu Abbas) agama dan ajarilah dia ta’wil. Menurut mereka, jika ta’wil yang dimaksud hanya sebatas mendengar dan menukil, maka pengkhususan Ibnu Abbas dengan do’a ini samasekali tidak ada manfa’atnya. Wallaahu A’lam.[]

Sumber: ‘Ulumul Qur’an al-Karim karya al-Duktur Nuruddin ‘Itr

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top