Tafsir merupakan salahsatu pembahasan penting dalam ulumul qur’an. Karena tafsir merupakan sarana untuk mencapai tujuan daripada ulumul qur’an, yaitu mengetahui dan memahami isi al-Qur’an, mengambil hukum-hukum dan hikmah-hikmah yang terdapat didalamnya, dan lain sebagainya. Dari segi metodologi ilmiah, metode penafsiran al-Qur’an secara global dibagi menjadi dua macam: Tafsir bil-Ma’tsur dan Tafsir bil-Ra’yi. Adapun yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tafsir bil ma’tsur.

Tafsir bil ma’tsur adalah metode penafsiran al-Qur’an dengan teks atau penukilan: Mencakup penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, yaitu penafsiran ayat satu dengan ayat lainnya; penafsiran al-Qur’an dengan hadis nabi dan dengan qoul (ucapan/penjelasan) para sahabat nabi dan tabi’in atau hadis mauquf. Adapun mengenai penafsiran al-Qur’an dengan qoul tabi’in, sebagian ulama menganggap bahwa hal tersebut termasuk dalam metode tafsir bil ra’yi. Akan tetapi disini kami menganggapnya termasuk dalam metode tafsir bil ma’tsur.

Tafsir bil ma’tsur merupakan cabang ulumul qur’an pertama yang dikodifikasi. Adapun ulama yang berperan dalam pengkodifikasian tafsir bil ma’tsur, secara tidak langsung adalah mereka para rijalul hadits (orang-orang yang terlibat dalam periwayatan hadis). Dikatakan bahwa orang pertama yang mengkodifikasi tafsir bil ma’tsur melalui metode penafsiran al-Qur’an dengan hadis nabi adalah Imam Malik bin Anas. Kemudian pada abad selanjutnya, abad kedua hijriyah, muncul metode penafsiran dengan qoul para sahabat nabi dan tabi’in seperti pada tafsirnya Sufyan bin ‘Uyainah, Waki’ bin Jarah, Syu’bah bin Hajaj, dan lain sebagainya. Sedangkan Ibnu Jarir ath-Thabari mengumpulkan semua metode penafsiran al-Qur’an dengan teks tersebut; baik dengan al-Qur’an, hadis nabi maupun qoul para sahabat dan tabi’in dalam tafsirnya.

Akan tetapi, metode tafsir bil ma’tsur ini dinilai lemah oleh para ulama, walaupun banyak pula kelebihan-kelebihannya.Karena termasuk dalam metode tersebut adalah penukilan qoul para sahabat dan tabi’in. Para ulama menilai hal tersebut hampir kurang dari derajat tsiqah (dapat dipercaya) jika tidak dengan kesungguhan para ulama dalam memverifikasi teks. Sampai-sampai Imam Syafi’i berkata demikian: “Tafsiran Ibnu Abbas itu tidak bisa ditetapkan sebagai pedoman, kecuali hanya keserupaan dengan seratus hadis”. Adapun mengenai metode penafsiran dengan al-Qur’an maupun al-Hadits, para ulama sepakat akan kebenarannya.

Secara global, ada tiga sebab penting yang menjadikan metode tafsir bil ma’tsur ini lemah, yaitu: dimasukkannya isra’iliyat dalam tafsir, penggelapan atau pembuangan sanad-sanad, dan yang ketiga adalah adanya al-wadl’u (karangan) dalam tafsir. Ketiga sebab ini sangat berakibat dan mempengaruhi terhadap lemahnya metode tafsir bil ma’tsur.

Isra’iliyat dalam Tafsir bil Ma’tsur
Isra’iliyat adalah corak yahudi dan nasrani yang mewarnai tafsir, serta budaya keduanya (yahudi dan nasrani) yang mempengaruhi tafsir. Awal mula masuknya isra’iliyat dalam tafsir ini pada zaman sahabat nabi. Karena pada waktu itu mereka (para sahabat) berkeinginan untuk mengetahui hal-hal yang sifatnya lebih rinci pada para ahlul kitab (yahudi dan nasrani). Namun setelah mendapatkan informasi atau data dari ahlul kitab, mereka membiarkan data itu disajikan begitu saja dalam tafsir tanpa mempertimbangkan kevalidan data tersebut. Artinya, benar atau bohongnya data tersebut belum teridentifikasi.Disamping itu, mereka masih berjibaku pada dua hadis nabi yang terkesan bertentangan, yaitu: “Janganlah kalian membenarkan ahlul kitab dan jangan pula menyalahkannya. Tapi ucapkanlah: kami beriman kepada Allah dan apa yang telah diturunkan kepada kami!”, dan “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat dan bani isra’il”.Sedangkan pada masa tabi’in, mereka (ahli tafsir para tabi’in) memasukkan data-data informasi dari ahlul kitab dengan tanpa ragu pada tafsir-tafsir mereka. Di samping karena kemudahannya dalam perolehan data dan informasi dari ahlul kitab, mereka pun membolehkan penyajiannya dalam tafsir.Isra’iliyat dinilai menimbulkan pengaruh yang buruk bagi dunia tafsir karena kevalidan datanya yang samasekali tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Sebenarnya jika dilihat dari sudut pandang kebenarannya, isra’iliyat dibagi menjadi tiga kategori:
Pertama; isra’iliyat yang diketahui kebenarannya dengan gamblang dan dapat diterima karena bersumber dari Nabi Muhammad secara langsung. Kedua; isra’iliyat yang secara hukum dipersalahkan karena sangat jelas kebohongannya dan tidak dapat diterima samasekali. Dan yang ketiga; isra’iliyat yang maskuutun ‘anhu (dibiarkan), yaitu isra’iliyat yang tidak teridentifikasi kebenaran dan kebohongannya. Akan tetapi kategori ketiga ini oleh para ulama dinilai tidak berfaedah dalam agama.

Pembuangan dan Penggelapan Sanad-sanad Hadis
Semenjak zaman sahabat nabi, para sahabat membudayakan penyebutan sanad pada setiap hadis yang diriwayatkan. Ketika ada hadis yang tidak disebutkan sanadnya, maka mereka langsung menanyakan sanad hadis tersebut. Karena sanad berhubungan dengan benar atau tidaknya suatu hadis dan layak atau tidaknya hadis untuk dijadikan pedoman. Kemudian pada zaman setelah sahabat, yaitu zaman tabi’in, budaya penyebutan sanad dituangkan dalam tafsir oleh Sufyan bin ‘Uyainah dan Waki’ bin Jarah. Akan tetapi setelah itu, para mufassir banyak yang meringkas sanad dalam tafsirnya sehingga banyak hadis-hadis dalam tafsir yang diragukan kebenarannya. Dan oleh para ulama, ini dinilai berbahaya karena menimbulkan pemahaman yang cacat. Disamping itu, salahsatu metode penafsiran dalam tafsir bil ma’tsur adalah penafsiran al-Qur’an dengan hadis nabi. Maka semestinya hadis yang digunakan adalah hadis-hadis yang sohih. Dan tolok ukur sohih atau tidaknya suatu hadis adalah dilihat dari sanad-sanadnya.

Banyaknya Karangan dalam Tafsir bil Ma’tsur
Dalam kitab-kitab tafsir yang menggunakan metode tafsir bil ma’tsur banyak ditemukan al-wadl’u. Al-Wadl’u adalah karangan atau kebohongan dalam hadis dan tafsir. Al-Wadl’u dianggap lemah bahkan tidak diterima oleh para ulama karena tidak memiliki sandaran pada dalil atau hadis manapun. Lagipula dapat menimbulkan keraguan pada pemahaman. Dan yang dikhawatirkan adalah bercampurnya al-Wadl’u dengan nash yang sohih. Akan berbahaya bagi orang yang tidak bisa membedakan mana al-Wad’u dan mana yang sohih. Karena al-Wadlu pun bisa jadi benar dan bisa jadi itu salah.  Akan tetapi sedikit sekali kemungkinan pada kebenaran al-Wadl’u. Maka dari itu al-wadl’u merupakan salahsatu faktor yang menjadikan lemahnya metode tafsir bil ma’tsur.

Beberapa kitab-kitab tafsir yang penting dan masyhur yang menggunakan metode penafsiran dengan tafsir bil ma’tsur, diantaranya: Jami’ul Bayan Fi Tafsiril Qur’an karya Imam al-Thabari, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim karya Imam Ibnu Katsir, Lubab al-Ta’wil Fi Ma’ani al-Tanzil karya Imam al-Khozin, dan al-Jawahir al-Hassan Fi Tafsir al-Qur’an karya Imam al-Tsa’alibi.[]

Sumber: ‘Ulumul Qur’an al-Karim karya al-Duktur Nuruddin ‘Itr

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top