Islam sebagai agama pamungkas dari agama-agama samawi ini pertama kali disebarluaskan oleh rasul pamungkas, baginda Muhammad SAW kepada manusia secara sembunyi-sembunyi dari pintu ke pintu, hingga secara terang-terangan berorasi. Namun baginda Muhammad SAW menyebarluaskan Islam tidak hanya dengan orasi belaka, akan tetapi juga dengan tingkah laku atau perbuatan yang mulia yang dapat menyilaukan pandangan manusia yang kemudian tertarik dengan kemuliaan itu dan akhirnya ikut menganut agama Islam karena ingin menikmati kemuliaan-kemuliaan yang ada di dalamnya.

Namun tingkah laku mulia baginda Muhammad SAW bukanlah semata-mata bentuk pencitraan belaka yang bertujuan untuk menyilaukan mata manusia, melainkan itu adalah sifat dan tabiat asli beliau sebagai manusia yang paling mulia. Disamping juga baginda Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT yang secara implisit disebutkan dalam hadits bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia yang pada waktu itu sedang dalam keadaan porak-poranda dalam segi akhlak.

Penyebarluasan Islam oleh baginda Muhammad SAW ini awalnya menuai banyak kontroversi di kalangan manusia pada waktu itu. Karena kedatangannya yang secara tiba-tiba dan mengusik agama yang ada. Dan baginda Muhammad SAW memakai metode yang pas, menyebarluaskan secara sembunyi-sembunyi. Sehingga walaupun datangnya tiba-tiba, manusia tidak terlalu kaget karena sudah ada bisikan-bisikan sebelumnya. Berawal dari itu semua, akhirnya Islam berhasil menyebar dan meluas ke seluruh dunia melalui generasi-generasi penyebarluas Islam setelah baginda Muhammad SAW dan sampailah Islam ke Indonesia.

Islam di Indonesia pada fase pertama penyebarluasannya dilakukan oleh para ulama dari timur tengah dengan menggunakan metode perdagangan. Karena profesi mereka adalah pedagang. Mendistribusikan barang dagangan dari timur tengah ke Indonesia. Namun profesi pedagang adalah profesinya sebagai manusia yang hidup dan bekerja. Akan tetapi tujuan utama mereka datang ke Indonesia adalah menyebarluaskan agama Islam. Lalu mereka mempertajam kegiatan penyebarluasan Islam dengan menikahi para perempuan Indonesia dan menetap sebagai warga Indonesia. Dari sini bisa diambil kesimpulan yang agak menggelitik, bahwa agama Islam di Indonesia adalah agama impor.

Dari wilayah pelabuhan satu ke pelabuhan yang lain, pulau satu ke pulau yang lain, Islam menyebar dan meluas di Indonesia khususnya di pulau Jawa. Tidak lain penyebarluasan Islam di tanah Jawa dari pantai Anyer di ujung barat sampai pantai Panarukan di ujung timur ini adalah berkat walisongo. Walisongo atau sembilan wali ini adalah para penyebarluas Islam yang mampu menyulap agama Islam yang merupakan agama impor menjadi seperti agama lokal yang menyatu dengan rakyat.

Walisongo menggunakan metode asimilasi. Asimilasi yaitu penggabungan ajaran agama Islam dengan adat istiadat dan budaya disekitarnya. Misalnya, tradisi menyediakan sesajen ke tempat-tempat keramat diasimilasi dengan konsep sedekah dalam Islam yang akhirnya menciptakan tradisi selamatan. Sehingga penduduk tanah Jawa banyak yang tertarik mengikuti ajaran agama Islam yang ketika itu mampu merubah adat yang kurang baik dan tidak rasional menjadi adat yang sangat baik dan rasional serta bermanfa’at.

Oleh walisongo dan murid-muridnya, Islam menyebar serta meluas ke seluruh daerah utara pulau Jawa dan beberapa pelosok. Setelah walisongo, dilanjutkan oleh generasi setelahnya yaitu para kiai dengan metode penyebarluasan dengan pengajian dan pesantrennya yang mampu menyebarluaskan Islam dari kota-kota hingga ke pelosok-pelosok desa. Karena pesantren mampu mencetak kader penyebarluas Islam secara serentak setiap tahunnya hingga semakin banyak penyebarluas Islam. Dengan banyaknya penyebarluas Islam, maka Islam semakin cepat menjalar, menyebar dan meluas hingga ke seluruh Indonesia.

Semakin hari, aktivitas penyebarluasan Islam di Indonesia terus berjalan dan mencapai klimaksnya. Hingga sekitar 80 persen dari penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Namun belakangan ini agama Islam dijadikan komoditi industri. Aktivitas penyebarluasan ajaran Islam kini dijadikan sebagai profesi. Orasi dan ceramah-ceramah keagamaan dipoles sedemikian rupa hingga serupa dengan acara-acara hiburan. Seperti yang dilakukan oleh ustad-ustad yang diperbudak oleh pertelevisian. Apalagi pada saat bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang diagungkan oleh para pemeluk agama Islam di seluruh dunia termasuk Indonesia. Bulan ini dimanfa’atkan oleh stasiun-stasiun televisi untuk menyajikan acara yang diminati khalayak terutama para pemeluk agama Islam. Salah satunya adalah acara-acara ceramah keagamaan oleh ustad-ustad. Awalnya memang, ustad-ustad ini melakukan aktivitas penyebarluasan ajaran agama Islam dengan ikhlas dan lapang dada. Namun karena dimanfa’atkan oleh pihak televisi yang menjanjikan bayaran yang mahal, ustad pun tergiur. Karena ustad juga merupakan manusia yang tidak selalu bisa tahan dengan melihat uang banyak. Dan akhirnya, ceramahlah ustad di layar kaca televisi.

Tahun-tahun berlalu, kegiatan rutinan pertelevisian di bulan Ramadhan itu semakin inovatif. Setiap tahun muncul ustad-ustad baru di layar kaca. Kegiatan penyebarluasan ajaran agama Islam di televisi ini semakin memperlihatkan bahwa itu merupakan suatu profesi. Bahkan, kabarnya ada pula ustad yang memasang tarif hingga puluhan juta setiap kali ceramah. Malah kabarnya ada juga ustad yang melakukan kontrak ceramah dengan pihak televisi dengan biaya yang mahalnya melebihi artis.

Dalam aktivitas penyebarluasan agama Islam, para ulama terdahulu telah menyusun kode etik. Seharusnya sebagai penyebarluas agama Islam, para ustad di televisi itu mengamalkan kode etik tersebut. Tapi entahlah, apakah ustad-ustad itu tidak tahu kode etik atau mungkin tahu tapi tidak mengamalkannya. Semestinya predikat penyebarluas agama Islam itu tidak dijadikan profesi. Namun merupakan sebuah kewajiban bagi siapa saja yang memiliki ilmu. Karena setiap orang yang memiliki ilmu agama itu wajib mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain. Seperti yang dikatakan oleh baginda Muhammad SAW, “sampaikanlah walaupun hanya satu ayat”. Wallaahu A’lam.

Next
Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top